You are currently browsing the tag archive for the ‘cerpensaja’ tag.

Sore ktika penat telah dilepas oleh sebagian orang, sebagian dri mereka itu mungkin duduk di beranda sembari menyeruput secangkir teh. Di rumah sederhana yang lmayan kecil, sepasang suami-istri sedang pula melepas lelah yang tertumpuk hingga siang. Koran sore yang baru saja di beli dari loper Koran di pinggir jalan oleh si suami menutupi wajah antara mereka. Sang istri hanya diam, meja bundar sebatas perut saat duduk, masih kosong oleh pendamping sore hari, dengan berdehem menunjukan sedikit kekesalan karena persoalan perhatian sang istri.

si suami bergumam dengan terus saja membentangkan korannya. ‘hah… sesore ini meja ini masih saja kosong, adakah yang mampu ku telan untuk meredam lelah’.

Si istri mengerti pula sebab 10 tahun menikah bukanlah waktu yang singkat. Untuk mereka. Iya pergi kedapur dengan muka yang begitu datar, si suami masih saja membentangkan dan bercumbu dengan berita-berita di tangannya, tanpa sadar akan air muka istrinya. Sebentar kemudian secangkir teh dan se toples kue nastar tersampir di depan si suami yang masih saja membaca Koran.

Si istri duduk dengan cemberut,

“pandanglah sesekali istrimu ini wahai suamiku! Jangan hanya berita di luaran yang kau cumbui, bukankah telah lama kita menikah, dan kau sekarang hanya menganggapku tak lebih dari seorang pembantu…”

Sang suami melirik sedikit kemudian kembali tenggelam dalam Koran sorenya, “aku tak pernah menganggapmu sebagai pembantu di rumah ini. tak biasanya kau begini, rasanya tiap haripun aku begini dan kau tak protes barang sedikit, kau sedang kedatangan ‘tamu’ ya?”

“hhhh… kau memang tak pernah menganggap mu sebagai pembantu dalam pikiranmu, tapi sikapmu sekarang tak seperti menganggapku istrimu! Aku tak sedang ‘itu’. Wajarlah aku meminta perhatian darimu, aku kan istrimu dan aku juga adalah wanita…” si istri makin kesal atas tingkah suaminya yang tak beranjak juga dari Koran kesayanganya

“Lalu kau maunya apa?”

“setidaknya sebentar kau turunkan istri keduamu itu dan memandangku” si istri hampir sampai pada puncaknya.

Sang suami menurunka koranyaa ke pangkuannya, dan sebentar memandang istrinya dengan kosong dan tanpa berucap apapun, lalu kembali ia angkat Koran kesayanganya itu dan kembali terhanyut, sang istri terdiam menahan, berlalu beberapa menit, tangan kanan sang suami melepas sebelah Koran dan mengambil cangkir the lalu menyeruput nikmat di balik korannya.

Terkumpul sudah kekesalan sang istri dalam kepalanya, tanganya menggenggam laliu tertangkup, ingin sekali ia marah dan meledak di depan suaminya sendiri tapi ia menjadi ingat akan awal pernikahannya dulu. dengan tetap menahan karena yang dihadapannya adalah suaminya yang telah dinikahinya lebih dari 10 tahun, ia mencoba berucap, “tak habis-habisnyakah berita dalam Koran mu itu? Aku mengharap lebih dari sekedar tatapan kosongmu tadi, aku istrimukan!? Bahkan tatapanmu pasti penuh lebih arti pada koranmu itu ketimbang padaku”

“Engkau maunya apa? bukankah sudah kutuluskan permintaanmu untuk memandangmu sejenak tadi? Itukan tadi permintaanmu, wanita memang terlalu bertele-tele untuk hendak mengatakan sesuatu… hhhh… dan tau darimana kau tentang tatapanku pada Koran ini sedang kita terhalang lembaran yang kau sebut ‘istri keduaku’ ini?”

Teh sang suami telah setengahnya tandas dan senja semakin memerah, sang istri pun meledak setelah sang suami menjawab demikian. “jadi… kau telah menganggapku bukan sebagai istrimu, begitu!? Kau anggap aku hanya seongok daging, yang akan kau butuhkan jika malam tiba!! Kau memang keterlaluan, lebih sayang pada koranmu itu ketimbang istrimu sendiri, kau keterlaluan…!! kau… k..a.u… uuuuu….hik…. hik….” Mata si istri menjadi sembab, ia tertelungkup di sudut meja kepalanya bertopang tangan.

Senja masih menahan merah di tingkahi tangisan si istri, sang suami akhirnya menurunkan korannya lalu melipatnya, si istri masih saja terus terisak. Dan jika terus didiamkan mungkin saja teras itu kuyup oleh tangisnya. Sang suami menaruh korannya mengambil cangkir tehnya dan menandaskan tehnya, lalu diangkatnya kursi jati tempatnya duduk tadi, diletakkannya di samping istrinya duduk. “aku mencintaimu lebih dari koran-koran yang kubaca istriku, jika Koran-koran itu mampu membuka pikiranku, engkaulah yang mampu membuka hatiku, maafkan aku.” Sang suami merangkul istrinya dengan hangat dan tangis itupun lenyap di dada sang suami.

Matahari semakin turun, senja semakin pekat penat-penat telah sehabisnya di habisi, sepasang merpatri itu masih berpelukan hingga hilang matahari.
sorehariyangindah

Iklan

Kategori

September 2017
S S R K J S M
« Mei    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Laman

Kategori

Komentar Terbaru