You are currently browsing the tag archive for the ‘cerpenakusaja’ tag.

 

1

Ketika derasnya hujan beradu dengan atap rumahku yang terbuat dari seng, aku yang saat itu masih berumur 6 tahun begitu ketakutan, bayanganku ada seribu moster yang mengaum hendak menerkamku.

Dari kecil tubuhku rentan terhadap penyakit, tiap bulan di hari yang berbeda, tanpa sebab yang serius, suhu tubuhku bisa saja langsung naik dan badan ini tak enak sekali, kalau sudah begitu langsung saja papah dan mama mengantarku ke dokter Arifin, dokter langgananku, tapi ketika itu hujan begitu deras dan yang kami miliki hanya tunggangan beroda dua, papah tak mau ambil resiko biar sakitku tak tambah parah.

Hujan di luar masih saja deras,suara hujan yang beradu atapseng membuatku tambah tak enak badan, tenggorokanku pun hampir sama panasnya dengan keningku, aku tak betah dengan keadaan seperti ini, hujan dengan riangnya membuatjku menunggu, mama ada disampingku, kami duduk di ruang tengah lampu temaram dinyalakan lampu dari kipas angina bergaya kuno, aku dipangku dan tangan kananya merangkul keningku, “biar mama alirkan panas keningmu ke tangan mama” begitu bisik beliau. Suara hujan di luar masih terdengar deras, sebab seng atap rumahku melebih-lebihkanya.

Tapi aku menyukai saat seperti itu, dimana hujan tak menjadi dingin, namun hangat ketika aku berada dalam peluk mamaku.

 

2

“5 menit” kata papah

Tapi aku memasang tampang memohon, biar ditambah sedikit lagi waktuku

“10 menit” rengekku

Lama aku memasang wajah memohon akhirnya papah mengangguk, tak ayal aku riang bukan kepalang, sepuluh menit cukup bagiku untuk keluar dan bermain hujan yang pada musim ini baru saja dimulai, ini hujan kedua hari ini, aku hanya dibolehkan bermain hujan di hujan yang kedua, kata ayahku sih sebab hujan pertama tidak baik untuk diajak bermain. Aku sudah siampan lima buah kapal-kapal kertas yang kubuat sejak hujan pertama baru saja muncul.

Kubuka bajuku, dan langsung menghambur keluar tanpa babibu, aku tak lagi begitu peduli dengan teriakan mamaku yang memperingatkanku tentang licinya lantai teras, aku terlalu senang.

“bruk!!’ aku terpeleset dan terduduk, pantatku rasanya sakit sekali, inilah akibat dari tak mendengar kata orangtua, sesal sih ada tapi rinduku pada hujan membuatku berdiri dan langsung berlari kembali, selokan di depan rumah menantiku, aku berjingkrakkan, kularutkan kapalku dari rumah tetanggakulalu aku berlari di pinggirnya mengikuti kapal kertas bikinanku, tak sampai di ujung selokan depan rumah, kakalku sudah karam, maklumlah namanya juga dari kertas, tapi masih ada 4 lagi kusiapkan di balik pintu teras agar aku mudah mengambilnya. Aku berkecipak dikubangan pinggir jalan, jalan depan rumahku begitu lenggang seolah memberiku kesempatan bermain dengan hujan.

“Tung…!!” panggil Mamaku

“Wah sudah di panggil” gerutuku

inggih” akupun berlari ke rumah, tapi dengan malasnya, di pintu aku disambut dengan handuk yang besar buat ukuranku, lalu aku digiring ke kamarmandi dan disiram.

Untuk hari ini aku cukup puas bermain dengan hujan, “sepuluh menit yang singkat”

 

3

Entah bagaimana cara menghitungnya, setelah lima tiba-tiba saja jadi sepuluh ketika bola itu masih di kotak hijau dan yang menerima tidak mampu menangkap kecepatannya, kali ini papah yang tak bisa menangkapnya, aku kurang paham permainan tennis ini, walaupun tiap kali di ajak sore hari aku senang sekali dan selalu saja mengambil tempat duduk yang sangat tinggi di kursi wasit yang papan tempat duduknya hilang setengahnya.

Tiap sore entah aku lupa hari apa saja dalam tiap minggu aku diajak papah ke lapangan tennis, kadang di lapangan dekat rumah yang berseberangan dengan tanah tak berpenghuni penuh perdu dan pepohonan, kadang pula di lapangan Loktabat, dekat perternakan sapi. Dan aku lebih suka ketika di ajak ke lapangan tennis Loktabat, sebab sebelum papah bermain tennis, sebungkus nasi goreng dibelikan untuk menemaniku di atas tempat duduk wasit. Di lapangan dekat rumah juga kadang-kadang aku dibelikan nasi goreng dulu, tapi nasi goring yang satu ini agak kurang enak.

Ketika itu hujan turun dan hari ini giliran bermain di lapangan dkat rumah, aku bersama papah serta empat orang teman ayah yang lain berteduh di pinggir lapangan, sebuah tempat kecil -mungkin buat penonton- kami berteduh, aku telah tandaskan sebelumnya nasi goreng yang tadi sempat di beli. Papah dan temanya mengobrol, dan aku tak terlalu peduli, salah satu dari mereka sedang menggosok senar tennis dengan lilin, aku tak tau buat apa. Hujan turun cukup deras dan menghempas lapangan semen hijau bergaris putih. Sepertinya akan berlanjut sampai senja, dan permainan hari ini hanya berlangsung setengahnya.

 

4

Begitu banyak yang direkam hujan untukku tentang memori-memori masa kecilku hingga hari ini.

 

5

Berkendara dengan scooter vespa dalam hujan mama dan papah mengapitku yang sedang demam, dibawah jas hujan warna biru pudar, sebab telah sering dipakai. Tak ada hujan yang sehangat ini.

 

6

Mobil “carry” warna merah marun, bentuknya sederhana, hampir-hampir mirip kotak minuman, tak terlalu kotak sih!. Dibeli ayahku ktika aku masih SD kelas 2 dengan menyicil. Senang pastinya, tapi vespa yang dulu telah dijual.

Hujan hari itu tidak terlalu deras, aku duduk di depan di samping papah dan adikku bersama ibu di belakang, aku lupa sebenarnya hendak kemana kami pergi dengan mobil. Yang pasti aku ingat kejadian itu terjadi di depan TK kanjul khairat tepat di persimpangan arah menuju museum lambung mangkurat, tak terlalu cepat sih mobil carry ini berlari, tapi begitulah hujan, hingga jalan begitu licin dan seorang pengendara hamper menyerempet mobil kami tapi terpeleset dan terjatuh di depan kami. Kelanjutanya aku tak begitu ingan hanya hujan dan papah yang merekam semuanya, yang pasti orang yang terpeleset tadi terluka ringan dan di bawa ke rumah yang tepat ada di persimpangan itu.

Hujau yang nakal!

 

7

Tanpa firasat apapun sore itu, hanya rasa takut kehilangan yang membayangiku, mungkin sebab aku masih kecil dan belum terlalu mengenal seluk dunia dan beluk kehidupan. Aku pulang dari rumah sakit bersama Julakku, meninggalkan papah yang terbaring dan mama yang menunggu. Hari tampak muram, tapi aku tak peduli. Yang namanya anak kecil,rasa seperti itu bukan urusanya.

 

Julak menerima telepon dengan was-was, dan aku sebenarnya tak memperhatikan kelanjutannya, aku memandang tv tapi tak sedang menikmatinya. Malam itu kami pergi lagi ke rumah sakit, dan diam menemani semua dalam mobil, hanya aku yang belum tau tentang rahasia waktu. Sampai di sana semua seperti terburu, Julak menggenggam tanganku kencang dan mengatakan sesuatu yang aku tak ingat setelahnya, menuju ruang papah dirawat di depan mama telah duduk terdiam -masih saja aku tak sadar- aku mendekat dan mendung telah ada di langit dan wajahnya.

“Papah telah pergi” dan pecahlah tangis di langit dan dimatanya.

 

8

Ketika hujan turun dan aku duduk di kamar dekat jendela, aku menghirup aroma tanah yang tersirami hujan pertama.

 

9

Yang mengantarku meninggalkan kota Banjarbaru ini adalah hujan.

 

10

Pernahkah kau tau dengan pasti dari mana saja air yang mengendap jadi mendung kemudian jatuh kembali ke bumi?, itulah indahnya hujan. Rahasia-rahasianya mengantarkanku pada imaji yang rahasia, rahasia-rahasia yang menuntunku mengenal Penciptanya.

 

13

Ada saja yang heran dengan cintaku pada hujan. Ketika hujan bertandang malam hari dan aku sedang ingin makan, maka kurentas saja hujan yang sedari tadi semakin pelan, sebab di kosanku tak bisa di buat untuk tempat memasak maka aku harus beli makan di warung-warung nasi yang banyak bertebaran di sini. Aku tak ada payung saat itu, maka dengan santai aku berjalan dalam hujan, setelah sampai di warung pinggir jalan itu orang yang berjualan berkomentar. ‘kok ga lari kalau hujan?” dan aku hanya tersenyum.

….

Kategori

Juli 2017
S S R K J S M
« Mei    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Laman

Kategori

Komentar Terbaru