“ada apakah anaku?”

Tanya ayahku

terdiam aku

bukan tak mengerti,

bukan tak mendengarkan,

hanya terdiam saja.

“apa yang kau bingungkan?”

ia bertanya dengan lebih mesra

masih terdiam aku.

Aku pahami

telah kusimak,

tapi masih kupilih diam

“katakan lah anaku sayang sebab apa engkau diam? Ayahmu ini tak akan mengerti soalan dirimu, meskipun aku ayahmu.”

ia membisik sayang dan mengelus kepalaku

aku tetap saja diam

seberti ada sebongkah gunung berdiam di mulut ini.

Diamku abadi meski ayahku menunggu.

banjarbaruyangtaktaukapanakumenulisnya

Iklan