Kuciptakan sungai dari bebatuan
Kupahat perahu dari hembusan nafas yang kukumpulkan sedari kukenal
Kutambatkan sebentar saja
Mengumpulkan rerumputan manis untuk umpan
Meraut sebatang joran dari urat nadi
Memintal benang dalam bolamata
Menempa kail ketika matahari mencelupkan diri
Siap sudah, mentari meredup
Tambat kurayu lepas
Derak antara batuan deras dan nafas meriak kerikil tajam

Perenjak terbang rendah
Dibisikkanya hari esok
Hilir sungai hanya sejengkal
Hari berlalu dalam imaji.

Iklan

suka atau tidak suka

saat ini juga aku akan

membunuh diriku sendir

entah dengan belati

atau lilitan temali

bakal kutikam jantungku

yang detaknya hilang atur

akan kusayat paru-paruku

nafas ini kehilangan rupa

akan kucongkel kedua mataku

dan kukeluarkan isi perutku

termasuk otak penuh sampah ini

kularung di sungai-sungai lahirku

biar luruh segala

 

akan kubunuh diriku sendiri

Tuhan sedang asik bercerita ketika itu tentang langit dan bumi ketika adam mencuri pandang ke arah buah kuldi yang ranum dan buah dada hawa yang tak kalah ranum

Sedang hawa begitu memperhatikan apa yang diucapkan Tuhannya sampai detail terkecil sampai ketika tuhan hendak memberikan petuah tentang larangan-larangan surga adam iseng menjawil buah dada hawa dan seketika hawa meleng melirik pada adam yang memasang wajah nakalnya, apa yang Tuhan katakan buat dua manusia tersebut tak lagi mereka perhatikan.

Pelajaran hari itupun berakhir meski waktu Tuhan yang buat.

“lihatkah kau Buah itu begitu ranum dan menggoda” kata adam sambil bergantian memandang buah kuldi dan buah dada hawa.

“ya benar katamu, lalu kenapa?” sahut hawa

“ia rupanya telah siap dipetik”

“hmm….!”

“kau mau kupetikkan dan kita makan bersama, pasti begitu nikmat”

“tapi kalau aku tak salah bukankah tuhan melarang kita untuk memakannya?” hawa berusaha mengingat pelajaran hari ini yang hilang samar-samar dari ingatannya

“ah..! tau darimana kau? Apa Tuhan mengatakan seperti itu? Tak mungkin, yang kutau setiap ciptaannya baik dan kenapa tak baik buat dimakan untuk buah yang satu itu?” sebenarnya adampun samar mendengar larangan itu tapi sifat bengal lelaki telah lahir dari awal penciptaannya.

“ah mungkin begitu?” jawab wanita itu goyah

“nah kalau begitu marilah kita kesana dan memetiknya barang sebuah!” ajak adam seketika memegang tangan hawa dan berlari mendekati larangan

Ketika itu Iblis tak ikut ambil bagian ternyata dan tak usah susah-susah menggoda mereka tinggal nanti ia ceritakan bahwa ia yang telah berhasil menggoda mereka (ah dasar licik!)

Tangan pertama telah menggapai

Ketika awal manusia tercatat dosa

Dosa ranum

Dosa yang manis

Dosa yang menggoda

Seketika mendarah daginglah

Dosa pertama

Dosa adam

Dosa hawa

Tuhan menatap

Dan seketika berpijaklah

Manusia pada hamparan

Yang mempertaruhkan harapan

dan kejelasan siang.

Malang10maret2010 10.23pm

Aku mencintainya seperti aku telah lama mencintai hujan

Bukan searoma tanah basah

Hanya melati yang begitu lembut dalam rongga dada dan ingatan

Entah sanggupkah

Jika hilang dari pandangan

Sebab mendung tak selalu bergelayut dalam

Bolamata ini (bukan sebuah hiperbola soal kesedihan)

hal baru……. ah…. ktika waktu ditafsirkan dengan angka-angka, maka selalu akan tiba pada limitnya. akan ada awal dan akhir lalu kembali, padahal tuhan dengan murah hati memberikan waktu buat alam semesta, karena waktu tak berbatas ktika hanya Tuhan yang kita biarkan merasuk di aliran darah kita. semoga panjang umur teman-teman

awal 2010samintercinta

“ada apakah anaku?”

Tanya ayahku

terdiam aku

bukan tak mengerti,

bukan tak mendengarkan,

hanya terdiam saja.

“apa yang kau bingungkan?”

ia bertanya dengan lebih mesra

masih terdiam aku.

Aku pahami

telah kusimak,

tapi masih kupilih diam

“katakan lah anaku sayang sebab apa engkau diam? Ayahmu ini tak akan mengerti soalan dirimu, meskipun aku ayahmu.”

ia membisik sayang dan mengelus kepalaku

aku tetap saja diam

seberti ada sebongkah gunung berdiam di mulut ini.

Diamku abadi meski ayahku menunggu.

banjarbaruyangtaktaukapanakumenulisnya

jauh ketika mentari masih menyapu diding putih di samping rumahku ketika sore menanda

jauh ketika aku masih berusaha mengenali tanah dan susu ibuku

jauh ketiha aku masih mencoba mengenali hujan, kemarau, pohon mangga, kelapa dengan buahnya yang membuat kesal terkadang.

jauh ketika ibuku masih dapat memelukku ketika hujan begitu deras dan tubuh ini terserang demam yang nakal.

jauh ketika aku beranjak dewasa hanya disaksikan mata ibuku yang tulus,

sekarang ada yang begitu jauh ada yang begitu dekat.

aku sedang hilang arah atau menghilangkan arah?

ada dosa lagi hari ini

ada salah lagi hari ini.

Tuhan yang Maha Tahu

tiupkan angin-anginmu, kirimkan hujanmu basahi aku sebasahnya, luruhkan seluruh-luruhnya. iinkan aku menangis untukMu. namun biarkan sekering kemarauMu

malangmalamkembali18desember09


I

Tuhan ciptakan waktu untuk kita

Yang berputar, yang berjalan, yang berdetak

Yang tak henti atas izin Ilahi

Setiap detik adalah jalan kepada Nya

Tik…tik…tik… tak tersadari

Kita berjalan di atas jarum maut

Tak ada batas bila dikehendaki

Tak ada garis yang menghalangi

II

Tuhan tak akan ciptakan kita tanpa alasan yang

Jelas

Telanjang kita pada mula bertemu dunia

Tanpa kemeja, tanpa celana, tanpa dosa

Arus waktu ubah kita juga semua

Berbalik & berputar, berkemas untuk

Kembali kepada-Nya

Kafan  saja yang kita bawa nanti

III

Terus… bencana dan kepedihan menerpa

Ini skenario dari Tuhan

Terus, teman ku ! bertahanlah di tenngah badai,

Membatu!!!

Kita perlahan bersama bangun

Tangang kami di sini selalu terulur

Walau kami juga terhempas, lemas

Tuhan masih berkenan buat waktu

Tuk kita yang sisa

Jangan kau cemas, cari batu, debu, jangan air mata melulu

IV

Sedang malam tetap saja di panggil malam

Dan selalu terganti saat pagi datang

Yang bawa siang, petang, kembali malam

Yang bawa terang, remang, kembali padam

Adalah semua itu waktu

Sudahlah!

Waktu ini, jalan satu arah!

Waktu ini, berputar tanpa salah

Jangan dengan resah

Jangan sama pasrar

V

Cukup sudah waktu menghitamkan hatiku

Kembalikan waktuku

Dan jika waktu berputar balik

Kubalikkan waktu ku bagimu

Tapi bukan buat melawan skenario-Nya

VI

Dalam lajur waktu, biar kau pergi

Biar kau lari

Biar kau sembunyi

Matahari tetap terbit esok pagi

Melucuti tiap gelap yang kau buat

Pun angin akan tetap datang

Menerbangkan semua angan yang kau bentang

Ke tiap-tiap dentang waktu

Sekarang-akan datang

Dengan kata-kata yang semakin susah kami

Ungkapkan

VII

tuhan ciptakan Kita buat isi waktu

Juga dunia

Dengan irama tanpa putus berdetak

Tak terhalang

Dulu kita mempengarui waktu

Sekarang kita dipengaruhi waktu

Terus berdetak dengan iramanya

Semakin jauh meninggalkan kami yang memang telah tertinggal

Seetik juga tak pernah berfikir untuk menunggu

VIII

Merasuki ruang dan waktu

Tiap detik kita berlari

Terhuyung di cambuk masa

Ruh tersengal, hendak keluar

Tertahan…hah…masa…!

Kita menghuni masa ini

Yang akan jadi akhir

“memang yang awal harus ada akhir”.

IX

Tak bisa disalahkan waktu yang berjalan

Layaknya deras pada sungai

Tidak pantas kita hujat waktu

Karena ia berputar tak kenal kita

Patuhnya hanya pada Tuhan

Dan adalah kita dengan sampan di alur waktu yang dengan gelombangnya

X

Hanya sebatas ini kami bisa tulis

Sesuatu

Sebatas adanya waktu

Sebatas kami mampu

Sebatas izin dari Ilahi.

El-qalam & nor hanafi

2004-2005

mungkin sebah ide yang biasa bagi banyak orang khususnya orang-orang yang bergelut malang melintang, lintang pukang, dan beribu kali mencicipi asam garam kehidupan”entah pake nas atau tidak” di dunia sastra, membuat puisi berantai , dua orang yang tak lain aku dan sigit temanku dalam mempermainkan kata, bagi kita hal ini dulu adalah hal yang baru menantang dan menyenangkan, maklumlah baru saja mencoba merangkak dewasa. tapi inilah proses kami menemukan keajainban kata dan tulisan serta rangkaian kalimat yang baru saja kami kenal. bangga, malu, terbayang kembali masa kita bergelut kata, termuncul kembali ketika aku ulang baca ini puisi. ingin tertawa semua bercampufr aduk jadi satu. ah selamat datang kehidupan nyata. ‘pai’ ingat ini dalam hati kita masing-masing

CATATAN UNTUK BATAS MAYA WAKTU

I

Tuhan ciptakan waktu untuk kita

Yang berputar, yang berjalan, yang berdetak

Yang tak henti atas izin Ilahi

Setiap detik adalah jalan kepada Nya

Tik…tik…tik… tak tersadari

Kita berjalan di atas jarum maut

Tak ada batas bila dikehendaki

Tak ada garis yang menghalangi

II

Tuhan tak akan ciptakan kita tanpa alasan yang

Jelas

Telanjang kita pada mula bertemu dunia

Tanpa kemeja, tanpa celana, tanpa dosa

Arus waktu ubah kita juga semua

Berbalik & berputar, berkemas untuk

Kembali kepada-Nya

Kafan  saja yang kita bawa nanti

III

Terus… bencana dan kepedihan menerpa

Ini skenario dari Tuhan

Terus, teman ku ! bertahanlah di tenngah badai,

Membatu!!!

Kita perlahan bersama bangun

Tangang kami di sini selalu terulur

Walau kami juga terhempas, lemas

Tuhan masih berkenan buat waktu

Tuk kita yang sisa

Jangan kau cemas, cari batu, debu, jangan air mata melulu

IV

Sedang malam tetap saja di panggil malam

Dan selalu terganti saat pagi datang

Yang bawa siang, petang, kembali malam

Yang bawa terang, remang, kembali padam

Adalah semua itu waktu

Sudahlah!

Waktu ini, jalan satu arah!

Waktu ini, berputar tanpa salah

Jangan dengan resah

Jangan sama pasrar

V

Cukup sudah waktu menghitamkan hatiku

Kembalikan waktuku

Dan jika waktu berputar balik

Kubalikkan waktu ku bagimu

Tapi bukan buat melawan skenario-Nya

VI

Dalam lajur waktu, biar kau pergi

Biar kau lari

Biar kau sembunyi

Matahari tetap terbit esok pagi

Melucuti tiap gelap yang kau buat

Pun angin akan tetap datang

Menerbangkan semua angan yang kau bentang

Ke tiap-tiap dentang waktu

Sekarang-akan datang

Dengan kata-kata yang semakin susah kami

Ungkapkan

VII

tuhan ciptakan Kita buat isi waktu

Juga dunia

Dengan irama tanpa putus berdetak

Tak terhalang

Dulu kita mempengarui waktu

Sekarang kita dipengaruhi waktu

Terus berdetak dengan iramanya

Semakin jauh meninggalkan kami yang memang telah tertinggal

Seetik juga tak pernah berfikir untuk menunggu

VIII

Merasuki ruang dan waktu

Tiap detik kita berlari

Terhuyung di cambuk masa

Ruh tersengal, hendak keluar

Tertahan…hah…masa…!

Kita menghuni masa ini

Yang akan jadi akhir

“memang yang awal harus ada akhir”.

IX

Tak bisa disalahkan waktu yang berjalan

Layaknya deras pada sungai

Tidak pantas kita hujat waktu

Karena ia berputar tak kenal kita

Patuhnya hanya pada Tuhan

Dan adalah kita dengan sampan di alur waktu yang dengan gelombangnya

X

Hanya sebatas ini kami bisa tulis

Sesuatu

Sebatas adanya waktu

Sebatas kami mampu

Sebatas izin dari Ilahi.

El-qalam & nor hanafi

2004-2005

Ya Malik, ya Muqiit

engkau tahu apa keinginanku

Biarkan kata-kata ini larut begitu saja

seperti derasnya aliran sungai-sungaiMu yang meluncur dari mata air di  gunung-gunungMU yang menjulang

Aku hendak menggerak dunia,

aku ingin mengarak awan,

aku mau menembus langit,

namun apadayaku dengan semua ini tanpaMu, jika memang itu tak tertulis dalam kitab nasibMu, setidaknya Kau mau mengabulkan satu keinginanku yang lain,

jadikan aku seorang penyair yang mampu memainkan kata buat menebas leher ketakutan.

Malang 2009

puisi ini masuk dalam antologi penyair banjarbaru tahun 2009, tupailah yang menjadikanya tertaut, selamat berarung ria dalam sungai kata-kata, selamatdan terima kasih yang terhiperbol  untuk seorang sahabat sekaligus sastrawan yang belajar memaknai hidup dari hembusan katanya yang suka sekali protes soalan negeri ini Sigit “Tupai” B.P.

Maka ketika hati-hati tersebut disatukan,
Tuhan persiapkan sebuah berkah,
hadirlah dalam pergulatan waktu,
tangis yang muruak pertama kali,
senyum yang disunggingkan,
diantaranya, ia yang diciptakan Tuhan untuk keluarga ini,
dengan kebahagiaan, dan berkah yang telah ditulis pada langit yang tercipta bagi kita.

Seribu rapal doa dari mulut-mulut yang penuh harap,
ya ayahmu, ya ibumu, ya seluruh runut darahmu.
Saat ini belajarlah ia kehidupan,
fase-fase yang diciptakanNya nikmatilah,
akan jadi seperti apa kau nanti,
yang kita mampu hanyalah mengenggam tanganmu,
mengajarimu merangkak, berdiri, mendengarmu mengucap pertama kali,
lalu beribu harap dan doa kami sampirkan dalam kehidupanmu nanti.
Jadilah seperti harapan yang dilekatkan pertamakali ayah dan ibumu,
bintang dengan sinarnya yang sampai pada kejauhan alam semesta,
yang membuat langit malam tak hambar
dan yang menjadi petunjuk para nahkoda-nahkoda kapal vinisi.

malangmalamhari

Kategori

Oktober 2017
S S R K J S M
« Mei    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Laman

Kategori

Komentar Terbaru